Zessyca Yasmin,
Aku menatap wanita yang berdiri berbaris di belakangku,
Dengan senyum tersipu malu kaupun membuat tembok hati runtuh.
Benang-benang takdir sedikit demi sedikit mulai merajut menjadi satu.
Tak terputuskan, tak terpisahkan.
Semua suka cita, membawa bahagia
Bersamamu, hitamku luruh.
Bersamamu, tawaku tulus.
Bersamamu, detik detik berhenti sejenak
Menikmati kebahagiaan yang fana namun tetap ada.
Bersamamu, aku...suka.
Tahun yang penuh tanya, tanpa seru koma titik pun tak ada.
Hanya tanya
Pantaskah aku denganmu
Pantaskah aku menjadi imammu saat sepertiga malam kita terbangun dan memanjatkan syukur kepada Tuhanku dan Tuhanmu. Allah kita
Di saat penghujung hari akal pikiran dan hatiku sudah saling setuju, memilih kamu.
Duka....
Duka....
Duka....
Aku berduka, kamu juga
Kita saling terjaga, dalam aliran semu yang tak kunjung menjadi nyata.
Bertahan dalam cobaan, bertahan dalam cacian
Dari fajar ke senja, Dari senja ke malam
Sedikit waktu tapi penuh makna.
Benang-benang kusut, kini mulai ter urai.
Bagai pertanda, bahwa kita memang ditakdirkan bersama.
Harapan, dikala tatapan mata tak lagi ada
Harapan, dikala susah makin merajalela
Seperti yang dijanjikan Tuhanku kepadaku
"Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan"
"Dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan"
Aku, Kamu sudah digariskan
Dengan Kuasa-Nya yang lebih dari semesta berkali-kali...berkali-kali...kemudian berkali-kali...
Kau isteriku, pendamping dunia dan surgaku...